Search
Archives

penyakit jantung pada ibu hamil

Penyakit Jantung Pada Ibu Hamil

GAMBARAN UMUM

Jantung merupakan organ vital pada manusia yang bertugas memompakan darah beroksigen keseluruh tubuh serta kepada janin dalam rahim ibu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Janin tersebut akan terus tumbuh menuntut makanan berupa oksigen dan nutrisi dari ibunya dan ini terpenuhi melalui aliran darah yang akan terus meningkat pada tubuh ibu. Akibatnya, jantung ibu pun akan semakin meningkat daya kerjanya apalagi selama kehamilan juga terjadi proses pengenceran darah (hemodilasi) untuk menjamin lancarnya suplai darah pada ibu dan janin. Kerja keras itu ditandai dengan meningkatnya denyut jantung ibu. Oleh karena itu di dalam proses kehamilan akan selalu terjadi perubahan-perubahan pada sistem kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis (Ontoseno 1996).

Tak semua ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung tidak boleh hamil, tergantung pada tingkat keparahannya. Penyakit jantung sendiri memiliki empat tingkatan yaitu :

1. Tingkat pertama, gejalanya masih tergolong ringan yakni penderita tidak mengalami sesak napas atau jantung berdebar. Jadi seakan-akan ia baik-baik saja.

2. Tingkat kedua adalah penyakit jantung golongan sedang, dimana penderita sehari-hari merasa sehat tapi begitu beraktivitas sedikit berat, seperti berlari, maka jantung terasa sesak, berdebar atau cepat lelah.

3. Tingkat ketiga sudah termasuk penyakit jantung kategori berat; saat istirahat penderita merasa nyaman, tapi saat mengerjakan pekerjaan sehari-hari, kendati aktivitas itu ringan, ia akan mengalami sesak atau muncul gejala kelemahan jantung.

4. Tingkat keempat atau sudah masuk kategori sangat berat, tanpa mengerjakan apa-apa pun penderita sudah menderita sesak.

Penderita penyakit jantung golongan tiga dan empat akan menghadapi risiko tinggi bila hamil. Olehkarena itu, mereka disarankan untuk tidak hamil karena akan memperburuk kondisi kesehatannya. Kalaupun hamil, hendaknya memerlukan perawatan yang instensif di rumah sakit. Dengan risiko berikut:

* Ibu tidak dapat diselamatkan.

* Bayi lahir dengan berat rendah karena sirkulasi darah dan makanan dari ibu ke janin tidak lancar.

* Ancaman keguguran di trimester pertama.

PATOFISIOLOGI

Janin yang sedang bertumbuh akan memerlukan oksigen dan zat-zat makanan yang banyak saat berlangsungnya proses kehamilan. Semua itu tentunya harus dipenuhi melalui darah ibu, untuk itu banyaknya darah yang beredar dalam tubuh ibu akan bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam sistem kardiovaskuler yang baisanya masih dalam batas-batas fisiologik. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena :

1. Hidrenia (Hipervolemia), dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu

2. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas, ke kiri, dan ke depan sehingga pembuluh-pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran.

Volume plasma bertambah juga sebesar 22 %. Besar dan saat terjadinya peningkatan volume plasma berbeda dengan peningkatan volume sel darah merah ; hal ini mengakibatkan terjadinya anemia delusional (pencairan darah). 12-24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma akibat imbibisi cairan dari ekstra vascular ke dalam pembuluah darah, kemudian di ikuti periode deuresis pasca persalinan yang mengakibatkan hemokonsentrasi (penurunan volume plasa). 2 minggu pasca persalinan merupakan penyesuaian nilai volume plasma seperti sebelum hamil. Jantung yang normal dapat menyesuaikan diri, tetapi jantung yang sakit tidak. Oleh karena itu dalam kehamilan frekuensi denyut jantung meningkat dan nadi rata-rata 88x/menit dalam kehamilan 34-36 minggu. Dalam kehamilan lanjut prekordium mengalami pergeseran ke kiri dan sering terdengar bising sistolik di daerah apeks dan katup pulmonal. Penyakit jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan dapat terjadi decompensasi cordis.

GEJALA

Mudah lelah, nafas terengah-engah, ortopnea, dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. Peningkatan berat badan, edema tungkai bawah, hepato megali, dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu :

1). Antara minggu ke 12 dan 32. Terjadi perubahan hemodinamik, terutama minggu ke 28 dan 32, saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum

2). Saat persalinan. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 – 20% dan ketika meneran pada partus tingkat 2, saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung.

3). Setelah melahirkan bayi dan plasenta. Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik.

4). 4-5 hari seetelah peralinan. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral.

KOMPLIKASI

Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif, edema paru, kematian,   abortus.
Pada janin dapat terjadi : prematuritas, BBLR, hipoksia, gawat janin, AP    GAR score rendah, pertumbuhan janin terhambat.

PENATALAKSANAAN

Sebaiknya dilakukan kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Secara garis besar penatalaksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring, menurunkan preload dengan deuretik, meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis, dan menurunkan after load dengan vasodilator.

Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu :

1). Kelas I

Tidak memerlukan pengobatan tambahan

2). Kelas II

Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan, hanya saja harus          menghindari aktifitas fisik yang berlebihan, terutama pada usia kehamilan 28-32 minggu. Pasien dirawat bila keadaan memburuk.

Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam, namun harus diawasi dengan ketat. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam, istirahat baring minimal setengah jam setelah makan, membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein, rendah garam dan membatasi kegiatan.

Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric.

Metode anastesi terpilih adalah epidural. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Lakukan pengawasan dengan ketat. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Bila terjadi takikardi, takipnea, sesak nafas (ancaman gagal jantung), berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0,8 mg, dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. Selain itu dapat diberi oksigen, morfin (10-15 mg), dan diuretik.

Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera. Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. Rawat pasien sampai hari ke 14, mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi, bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui.

3). Kelas III = Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretik.

4). Kelas IV  = Harus dirawat di RS

Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring terus sampai anak lahir. Dengan tirah baring, digitalis, dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. Pemberian oksitosin cukup aman. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. Setelah kala III selesai, awasi dengan ketat, untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus  dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Obat terpilih adalah heparin secara SC, hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral.